Trek ke Madakaripura sesungguhnya sangatlah mudah, kalau dari Gn.Bromo, kita tinggal mengikuti trek turun saja. Setelah sampai di persimpangan jalur Probolinggo atau Surabaya, kita pilih yang arah ke Surabaya. Tinggal ikuti jalur, hingga terlihat plang besar menuju Ke arah Madakaripura.Tak perlu khawatir, Plang Madakripura cukup besar, kita pasti akan melihatnya. Sesuai dengan instruksi di plang, kita harus belok kiri, tertulis 4km jaraknya. Tapi itu hanya tipuan, jarak sebenarnya kurang lebih 10 km-lah. Kita akan menyusuri jalanan sempit yang naik-turun menusuri perkebunan warga. Setelah sampai di pertigaan berikutnya, Ada plang lagi, arah ke Madakaripura belok ke kanan. Bagi Rekan yang punya GPS Koordinat Berada di X:113.014580 Y: -7.849500
Jalanan desa yang berkelok-kelok menjadi santapan perjalanan kami. Oh iya, persiapkan kondiso kendaraan anda, angin ban, juga bensin. Sebab sepanjang trek tak akan kita temui bengkel, Tambal ban atau Pom bensin.Hutan-hutan disekitar sini masih tergolong lebat, warna hijau seakan mendominasi. Bahkan, masih terlihat sisi – sisa bekas penebangan hutan secara liar oleh warga sekitar untuk dibuka menjadi lahan baru. Sangat disayangkan.
Setelah perjalanan sekitar 30 menit. Sebuah gerbang retribusi menyambut kami. Dari sini; jarak ke parkiran Madakaripura masih sekitar 300 meter. Kami titipkan sepeda di tukang parkir, mempersiapkan diri dan langsung tancap ke lokasi air terjun. Pada awalnya; kami sempat bingung, yang mana treknya….sebab, sebelumnya tak ada yang pernah kesini. Tiba-tiba seorang penduduk lokal menawarkan jasa sebagai Guide pada kami. Karena isi kantong yang sudah pas-pasan, kami menolaknya dengan halus. Kami memilih menjelajahinya sendiri saja. Namanya saja objek wisata, mana mungkin treknya sesusah seperti digunung.
Ternyata, treknya putus-putus oleh sapuan banjir bandang dan longsor. Maka terpaksa di beberapa titik kami harus turun menyusuri sungai yang berbatu besar-besar untuk menemukan treknya kembali. Tapi, tenang saja; cukup mudah kok. Tak perlu bingung, kita buntuti saja aliran sungai, pasti nanti akan ketemu dengan air terjunnya, sebab sungai ini alirannya juga berasal dari air terjun Madakaripura.
Air terjun mulai terlihat menyembur dari sela-sela tebing tinggi berlumut hijau. Tidak hanya satu, mungkin lebih dari tiga air terjun menggerojok dari ketinggian 50 meter disepanjang trek, menghujani daerah dibawahnya, seperti sebuah koridor panjang sebelum menuju ke air terjun utamanya. Siapapun akan basah ketika melewati ini. Guyuran bulir-bulir air seolah mensucikan kami pagi itu sebelum memasuki kawasan Pertapaan Sang Mahapatih Gajah Mada.
Awalnnya, kami sempat merasa ketakutan ketika melewatinya, karena susananya begitu suram dan angker, tak henti baca-bacaan lafal terucap lirih di hati kami sepanjang melewati trek itu. Gelondongan kayu-kayu besar berceceran disepanjang sungai. Mungkin terbawa arus banjir bandang dari atas. Terbayang dalam benak kami, seandainya saja tiba-tiba tempat ini longsor, entah bagaimana nasib kami. Tak akan bisa keluar pastinya.
Belok ke kanan, baru kami bisa melihat air terjun utamanya, yang disebut Madakaripura. Tempat pertapaan Sang mahapatih dari Majapahit. Ucapan Subhanallah berkumandang diantara kami, melihat kebesaran Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa ini. Seperti sebuah ceruk sumur tua raksasa, dan kami ada didalamnya. Kami semua basah dikalah itu, basah oleh air muka rasa takjub manusia.
Inilah Ciptaan-Nya, yang sanggup membuat manusia-manusia sombong dari kota ini tak berhenti berdecak kagum melihat eksotisme alamnya. Diatas kami, sebuah air terjun menggeluyurkan debitnya dari ketinggian sekitar 100 meter lebih. Sungguh indah luar biasa. Kami semua terkesima. Kami letakkan beban, mengambil kamera, berpose dan berfoto. Mengabadikan momen-momen indah ini. Momen indah bersama sang alam.
Memang benar-benar seperti sumur, dan kita ada di dsarnya bersama batu-batu gunung. Inilah Air terjun Madakaripura. Disamping-samping air terjun utamanya, kami melihat beberapa rembesan air tanah dari tebing juga tak mau kalah menciptakan air terjun-air terjun yang tak kalah indah. Buih-buih air yang disapu angin tak henti membasahi wajah dan kamera kami.
Sayang sekali, kami kesini pas musim hujan, lumpur turut turun bersama air terjun; membuat sungainya berwarna coklat keruh. Dan, kami pun menegok ke arah jalan masuk kami, sungguh luar biasa, kami serasa baru saja melalui alam lain, seolah berada di The Lost World yang belum pernah diketemukan sebelumnya. Sebuah gerbang hijau yang luar biasa indah ternyata baru saja kami lewati tadi.
Kalau kata salah seorang Guide yang ada disitu mengantarkan tamunya, tempat pertapaan Sang Mahapatih Gajah Mada ada dibalik air ada digua dibalik air terjun utamanya. Tak ada dari kami yang berani mencoba menyebrang kesana, entahlah, nyali kami masih berkata tidak waktu itu. Selain itu, kata Pemandu, sangat berbahaya sekali disana, sebab, dibawah air terjun persis, airnya sangat dalam, kurang lebih sekitar 7 meteran. Dan ada pusaran air disana, jadi kita harus benar-benar ada persiapan terlebuh dahulu kalau memang ingin membuka tabir ekspedisi kesana.
Kami cuma berfoto sambil main air disekitaran sungai. Tak berani terlalu ketengah. Setelah puas berfoto, kami-pun balik, dan langsung memacu sepeda motor ke Surabaya, menjalani kehidupan kembali sebagai manusia tanah rata.
Wah, sungguh sebuah sajian visual baru bagi kami. Sangat menantang adrenaline. Madakaripura, biarkan tetap liar dan alami dalam balutan hijau. Karena, generasi berikutnya, juga masih punya hak untuk menyaksikan semua keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini.
